Minggu, 24 Januari 2016

NIAT BAIK

Hari hampir malam. Ba’I Nadus berjalan tergesa-gesa. Sebilah parang panjang terselip di pinggangnya.
“Ini tidak bisa dibiarkan !!!, Tidak bisa dibiarkan!” teriaknya marah membuat warga kampung kaget.
Ia berjalan menuju pohon Taduk di pinggir kampung. Pohon itu terkenal angker. Tidak ada warga yang berani lewat depan pohon tersebut jika hari mulai malam. Mereka lebih memilih mengambil jalan memutar yang lebih jauh dari pada melewati pohon tersebut.
“Pohon itu harus dipotong !!!  Sudah cukup membuat kita takut.”  Katanya dengan penuh amarah. Warga kampung perlahan mulai mengikuti Ba’I Nadus berjalan.  Wajah mereka penuh ketakutan.

Ba’I Nadus mengambil parang panjang dipinggangnya, ketika ia akan memotong pohon tersebut,  tiba-tiba muncul jin penunggu pohon.
“Sabar dulu Ba’i……sabar dulu!” teriak si jin.
“Sudah Cukup !! Cukup lama kamu membuat kami terganggu, Jika malam, anak-anak kami menjadi takut,  warga tidak berani beraktifitas, Kampung  menjadi mencekam, kamu harus pindah dari sini!” kata Ba’I Nadus hendak mengayunkan parangnya.
“Sabar Ba’i….sabar… sudah cukup lama saya berada di pohon ini, sudah betah. “
 “Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?” lanjut si  jin sambil berbisik.
“Kesepakatan apa???” tanya Ba’I Nadus
“Begini, Ba’I tidak perlu memotong pohon ini, saya akan memberi uang sebagai biaya sewa.”
“Tidak !!! kamu harus tetap pergi dari pohon ini !!” perintah Ba’I Nadus
“Bagaimana kalau saya memberi Ba’I  1 Juta sehari ?” tawar si jin
Ba’I Nadus mulai berpikir keras.
“Uang itu akan saya lempar di teras rumah ba’I setiap pagi. 1 juta sehari…..setiap hari, Uang ini bisa Ba’I gunakan untuk memperbaiki rumah, membantu warga yang kesusahan atau sebagai persiapan ba’I sebagai calon kepala kampung.”
Ba’I Nadus mulai melunak. “Baiklah…..tapi ingat, kamu tidak boleh menggangu warga kampung lagi !” kata Ba’I Nadus sambil berjalan meninggalkan pohon itu.
“Siap Boss…..”  teriak si jin gembira.

Keesokan paginya ketika Ba’I Nadus bangun tidur, dilihatnya ada setumpuk uang di teras rumah. Buru-buru ia menghitungnya. Pas 1 Juta.  “Ternyata si jin tidak berbohong “ gumannya gembira.

Keesokan harinya, hal yang sama terjadi.  “Kalau sehari 1 juta, bisa-bisa saya menjadi orang terkaya di kampung ini” pikir Ba’I Nadus.

Kesesokan harinya, pagi-pagi benar Ba’I Nadus bangun. Ia tidak sabar lagi menerima 1 juta. Ia bergegas menuju teras rumah. Tidak ada setumpuk uang seperti hari kemarin. Mungkin si jin teralu kuat melempar sehingga jatuh di tempat lain. Ba’I Nadus mencari di setiap sudut halaman. Tidak Ada. Mungkin si jin lagi sibuk sehingga lupa, pikirnya.


Hal yang sama terjadi pada esok harinya, tidak ada 1 juta dari si jin. Keesokan harinya juga sama.  Ba’I Nadus naik pitam. Si jin telah menipunya. Diambillah parang panjangnya, diasah setajam mungkin.
Bergegas Ba’I Nadus berjalan menuju pohon itu. Ketika dia hendak mengayunkan parangnya, si jin keluar.
“Ada apa Ba’I ???” tanya si jin.
“Kamu telah melanggar kesepakatan ! jadi saya harus memotong pohon ini !” teriak Ba’I Nadus
“Tenang Ba’i….. sekarang Ba’I tidak bisa memotong pohon ini.” Ujar si jin
“Kenapa ???” tanya ba’I Nadus.
“Dulu waktu Ba’I datang hendak momotong pohon ini, Ba’I memiliki niat yang tulus, pohon ini hanya bisa dipotong jika orang memiliki niat yang tulus.”
“Sekarang Ba’I tidak memiliki niat yang tulus……. Ba’I ingin memotong pohon ini karena uang 1 juta kan? Bukan untuk menolong warga kampung? Heheheeh……” kata si jin sambil tertawa. Ba’I Nadus Cuma diam terpaku.

Cerita di atas mengingatkan kepada kita, kadang kita pada awalnya memiliki niat yang tulus, maksud yang baik dengan hati yang bersih, berubah pada akhirnya.  Niat yang tulus dapat berubah karena banyak hal, bisa berupa godaan jabatan atau kekuasaan,  kesombongan diri,  kerakusan harta ataupun keinginan untuk menjadi yang utama.

Kita bisa melihat banyak contoh di dunia nyata, seorang aktifis yang berteriak keras kepada permerintah, melakukan demo dimana-mana berbingkai kesejahteraan rakyat, akan berubah seperti pegawai kantoran biasa ketika menjadi anggota parlamen yang terhormat.

Banyak dari kita yang berlomba-lomba mengunjungi panti asuhan  pada waktu mendekati natal dengan tidak lupa membawa wartawan agar bisa diliput. Berfoto selfie dengan anak panti dan mengupdate di media sosial agar semua orang tahu kita telah berbagi.

Banyak lagi contoh yang bisa kita lihat. Sudah saatnya kita belajar untuk menyempurnakan niat. Melakukan sesuatu hanya karena ketulusan hati. Kita seharusnya menyadari bahwa yang menilai  setiap perbuatan kita, niat baik kita adalah  Sang Sempurna yang terlebih dahulu mencintai kita tanpa kepura-pura-an.

 “PERBUATAN BAIK MUNCUL DARI NIAT YANG BAIK”

(DennySalean – 20 Desember 2015)

*Ba’I artinya Kakek