NIAT BAIK
Hari hampir
malam. Ba’I Nadus berjalan tergesa-gesa. Sebilah parang panjang terselip di
pinggangnya.
“Ini tidak
bisa dibiarkan !!!, Tidak bisa dibiarkan!” teriaknya marah membuat warga
kampung kaget.
Ia berjalan
menuju pohon Taduk di pinggir kampung. Pohon itu terkenal angker. Tidak ada
warga yang berani lewat depan pohon tersebut jika hari mulai malam. Mereka
lebih memilih mengambil jalan memutar yang lebih jauh dari pada melewati pohon
tersebut.
“Pohon itu
harus dipotong !!! Sudah cukup membuat
kita takut.” Katanya dengan penuh
amarah. Warga kampung perlahan mulai mengikuti Ba’I Nadus berjalan. Wajah mereka penuh ketakutan.
Ba’I Nadus
mengambil parang panjang dipinggangnya, ketika ia akan memotong pohon
tersebut, tiba-tiba muncul jin penunggu
pohon.
“Sabar dulu
Ba’i……sabar dulu!” teriak si jin.
“Sudah Cukup
!! Cukup lama kamu membuat kami terganggu, Jika malam, anak-anak kami menjadi
takut, warga tidak berani beraktifitas,
Kampung menjadi mencekam, kamu harus
pindah dari sini!” kata Ba’I Nadus hendak mengayunkan parangnya.
“Sabar
Ba’i….sabar… sudah cukup lama saya berada di pohon ini, sudah betah. “
“Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?”
lanjut si jin sambil berbisik.
“Kesepakatan
apa???” tanya Ba’I Nadus
“Begini,
Ba’I tidak perlu memotong pohon ini, saya akan memberi uang sebagai biaya
sewa.”
“Tidak !!!
kamu harus tetap pergi dari pohon ini !!” perintah Ba’I Nadus
“Bagaimana
kalau saya memberi Ba’I 1 Juta sehari ?”
tawar si jin
Ba’I Nadus
mulai berpikir keras.
“Uang itu
akan saya lempar di teras rumah ba’I setiap pagi. 1 juta sehari…..setiap hari,
Uang ini bisa Ba’I gunakan untuk memperbaiki rumah, membantu warga yang
kesusahan atau sebagai persiapan ba’I sebagai calon kepala kampung.”
Ba’I Nadus
mulai melunak. “Baiklah…..tapi ingat, kamu tidak boleh menggangu warga kampung
lagi !” kata Ba’I Nadus sambil berjalan meninggalkan pohon itu.
“Siap
Boss…..” teriak si jin gembira.
Keesokan
paginya ketika Ba’I Nadus bangun tidur, dilihatnya ada setumpuk uang di teras
rumah. Buru-buru ia menghitungnya. Pas 1 Juta. “Ternyata si jin tidak berbohong “ gumannya
gembira.
Keesokan
harinya, hal yang sama terjadi. “Kalau
sehari 1 juta, bisa-bisa saya menjadi orang terkaya di kampung ini” pikir Ba’I
Nadus.
Kesesokan
harinya, pagi-pagi benar Ba’I Nadus bangun. Ia tidak sabar lagi menerima 1
juta. Ia bergegas menuju teras rumah. Tidak ada setumpuk uang seperti hari
kemarin. Mungkin si jin teralu kuat melempar sehingga jatuh di tempat lain.
Ba’I Nadus mencari di setiap sudut halaman. Tidak Ada. Mungkin si jin lagi
sibuk sehingga lupa, pikirnya.
Hal yang
sama terjadi pada esok harinya, tidak ada 1 juta dari si jin. Keesokan harinya
juga sama. Ba’I Nadus naik pitam. Si jin
telah menipunya. Diambillah parang panjangnya, diasah setajam mungkin.
Bergegas
Ba’I Nadus berjalan menuju pohon itu. Ketika dia hendak mengayunkan parangnya,
si jin keluar.
“Ada apa Ba’I
???” tanya si jin.
“Kamu telah
melanggar kesepakatan ! jadi saya harus memotong pohon ini !” teriak Ba’I Nadus
“Tenang
Ba’i….. sekarang Ba’I tidak bisa memotong pohon ini.” Ujar si jin
“Kenapa ???”
tanya ba’I Nadus.
“Dulu waktu
Ba’I datang hendak momotong pohon ini, Ba’I memiliki niat yang tulus, pohon ini
hanya bisa dipotong jika orang memiliki niat yang tulus.”
“Sekarang Ba’I
tidak memiliki niat yang tulus……. Ba’I ingin memotong pohon ini karena uang 1
juta kan? Bukan untuk menolong warga kampung? Heheheeh……” kata si jin sambil
tertawa. Ba’I Nadus Cuma diam terpaku.
Cerita di
atas mengingatkan kepada kita, kadang kita pada awalnya memiliki niat yang
tulus, maksud yang baik dengan hati yang bersih, berubah pada akhirnya. Niat yang tulus dapat berubah karena banyak hal,
bisa berupa godaan jabatan atau kekuasaan,
kesombongan diri, kerakusan harta
ataupun keinginan untuk menjadi yang utama.
Kita bisa
melihat banyak contoh di dunia nyata, seorang aktifis yang berteriak keras
kepada permerintah, melakukan demo dimana-mana berbingkai kesejahteraan rakyat,
akan berubah seperti pegawai kantoran biasa ketika menjadi anggota parlamen
yang terhormat.
Banyak dari
kita yang berlomba-lomba mengunjungi panti asuhan pada waktu mendekati natal dengan tidak lupa
membawa wartawan agar bisa diliput. Berfoto selfie dengan anak panti dan
mengupdate di media sosial agar semua orang tahu kita telah berbagi.
Banyak lagi
contoh yang bisa kita lihat. Sudah saatnya kita belajar untuk menyempurnakan
niat. Melakukan sesuatu hanya karena ketulusan hati. Kita seharusnya menyadari
bahwa yang menilai setiap perbuatan
kita, niat baik kita adalah Sang
Sempurna yang terlebih dahulu mencintai kita tanpa kepura-pura-an.
“PERBUATAN BAIK MUNCUL DARI NIAT YANG BAIK”
(DennySalean
– 20 Desember 2015)
*Ba’I artinya
Kakek