Minggu, 24 Januari 2016

MEMBERI

Saya pernah mengikuti sebuah latihan dasar kepemimpinan. Lama waktunya beberapa hari, dan karena panitia tidak memiliki cukup dana, kami diminta untuk membawa makan siang sendiri-sendiri.
Hari pertama sebelum berangkat ke tempat pelatihan, saya mampir ke warung padang langganan saya. Karena pelatihan ini mungkin akan menguras energi fisik maupun pikiran, saya memesan rendang padang ditambah perkedel kentang, rempeyek udang serta daun singkong dan sambal ijo, tidak lupa nasi-nya ditambah. Cukuplah untuk sebuah pelatihan kepemimpinan.
Sebelum pelatihan dimulai, intruktur membagi kami dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok berisi 20 orang. Instruktur juga meminta kami untuk mengumpulkan bekal makan siang kami. Saya merasa ini pertanda yang kurang baik.

Benar saja, waktu makan siang tiba, makanan dari kelompok kami, ditukar dengan kelompok lain dan dibagikan secara acak. Selamat tinggal rendang dan perkedel kentang. Tapi saya masih berharap bisa mendapatkan makanan yang  memadai, dan ternyata….. nasi putih plus telor mata sapi serta sambal leunca khas Jawa Barat. Ini agak sulit ditelan bagi lidah orang timor seperti saya….tetapi nasib harus diterima.
Keesokan harinya, saya mampir ke warung padang lagi, tapi kali ini saya cuma memesan nasi dan gulai ikan tongkol saja, saya kurang menyukai menu ini, tapi toh nanti bukan saya yang menikmatinya pikir saya.
Pelatihan berjalan, dan waktu makan siangpun tiba. Kali ini agak lain, instruktur tidak meminta kami mengumpulkan bekal makan siang kami. Dan lebih mengejutkan lagi ketika instruktur meminta kami menyantap bekal yang kami bawa sendiri. Saya kaget. Gulai ikan tongkol bukan kesukaan saya. Saya melirik teman samping saya, lebih parah lagi, ia membawa nasi dan tahu tempe. Bahkan ada teman yang makan hanya dengan nasi putih saja…… inilah yang dinamakan senjata makan tuan.

Sebagai manusia begitulah sifat kita. Kita terlalu royal untuk diri kita sendiri dan terlalu pelit untuk orang lain. Kita memanjakan tubuh kita dengan makanan berlemak sehingga kita harus membakarnya setiap hari dengan ber-olaraga berjam-jam. Bahkan ada yang terbaring berbulan-bulan karena stroke akibat makanan yang selalu enak. Seorang teman dapat mengabiskan berkilo-kilo Se’I di depot Bambu Kuning sebagai bagian dari kenikmatan hidup, kita menghabiskan beratus-ratus ribu rupiah untuk menikmati ayam goreng yang katanya dari Amerika sebagai bagian dari life style. Duduk-duduk di cafĂ© Mall agar terlihat sebagai orang modern. Di lain sisi, seorang ibu hanya memasak sebungkus mie instant dengan sepanci air penuh untuk makan malam sekeluarga.

Kisah lama ini kembali mengingatkan saya untuk mulai belajar berbagi. Memberi sebagai bentuk ucapan syukur karena terlebih dahulu diberi oleh Nya. Melupakan ketamakan hidup dengan mengejar yang apa tidak perlu. Seperti bunga rumput yang akan terbang ketika angin bertiup melintasi, begitulah seharusnya hidup dimaknai.

Kita akan tumbuh, berbunga, layu, lisut dan gugur meninggalkan kenangan tentang kebaikan, kehangatan dan cinta kasih. Sudah sepantasnya lah kita berbagi dunia dengan sesama.

“TERBERKATILAH MEREKA YANG MEMBERI”



(Denny Salean-17 Des 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar