MEMBERI
Saya pernah mengikuti sebuah latihan dasar kepemimpinan. Lama waktunya
beberapa hari, dan karena panitia tidak memiliki cukup dana, kami diminta untuk
membawa makan siang sendiri-sendiri.
Hari pertama sebelum berangkat ke tempat pelatihan, saya mampir ke warung
padang langganan saya. Karena pelatihan ini mungkin akan menguras energi fisik
maupun pikiran, saya memesan rendang padang ditambah perkedel kentang, rempeyek
udang serta daun singkong dan sambal ijo, tidak lupa nasi-nya ditambah.
Cukuplah untuk sebuah pelatihan kepemimpinan.
Sebelum pelatihan dimulai, intruktur membagi kami dalam beberapa kelompok.
Masing-masing kelompok berisi 20 orang. Instruktur juga meminta kami untuk
mengumpulkan bekal makan siang kami. Saya merasa ini pertanda yang kurang baik.
Benar saja, waktu makan siang tiba, makanan dari kelompok kami, ditukar
dengan kelompok lain dan dibagikan secara acak. Selamat tinggal rendang dan
perkedel kentang. Tapi saya masih berharap bisa mendapatkan makanan yang memadai, dan ternyata….. nasi putih plus
telor mata sapi serta sambal leunca khas Jawa Barat. Ini agak sulit ditelan
bagi lidah orang timor seperti saya….tetapi nasib harus diterima.
Keesokan harinya, saya mampir ke warung padang lagi, tapi kali ini saya cuma
memesan nasi dan gulai ikan tongkol saja, saya kurang menyukai menu ini, tapi
toh nanti bukan saya yang menikmatinya pikir saya.
Pelatihan berjalan, dan waktu makan siangpun tiba. Kali ini agak lain,
instruktur tidak meminta kami mengumpulkan bekal makan siang kami. Dan lebih
mengejutkan lagi ketika instruktur meminta kami menyantap bekal yang kami bawa
sendiri. Saya kaget. Gulai ikan tongkol bukan kesukaan saya. Saya melirik teman
samping saya, lebih parah lagi, ia membawa nasi dan tahu tempe. Bahkan ada
teman yang makan hanya dengan nasi putih saja…… inilah yang dinamakan senjata
makan tuan.
Sebagai manusia begitulah sifat kita. Kita terlalu royal untuk diri kita
sendiri dan terlalu pelit untuk orang lain. Kita memanjakan tubuh kita dengan
makanan berlemak sehingga kita harus membakarnya setiap hari dengan ber-olaraga
berjam-jam. Bahkan ada yang terbaring berbulan-bulan karena stroke akibat
makanan yang selalu enak. Seorang teman dapat mengabiskan berkilo-kilo Se’I di
depot Bambu Kuning sebagai bagian dari kenikmatan hidup, kita menghabiskan
beratus-ratus ribu rupiah untuk menikmati ayam goreng yang katanya dari Amerika
sebagai bagian dari life style. Duduk-duduk di café Mall agar terlihat sebagai
orang modern. Di lain sisi, seorang ibu hanya memasak sebungkus mie instant dengan
sepanci air penuh untuk makan malam sekeluarga.
Kisah lama ini kembali mengingatkan saya untuk mulai belajar berbagi.
Memberi sebagai bentuk ucapan syukur karena terlebih dahulu diberi oleh Nya.
Melupakan ketamakan hidup dengan mengejar yang apa tidak perlu. Seperti bunga
rumput yang akan terbang ketika angin bertiup melintasi, begitulah seharusnya
hidup dimaknai.
Kita akan tumbuh, berbunga, layu, lisut dan gugur meninggalkan kenangan
tentang kebaikan, kehangatan dan cinta kasih. Sudah sepantasnya lah kita
berbagi dunia dengan sesama.
“TERBERKATILAH MEREKA YANG MEMBERI”
(Denny Salean-17 Des 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar