Minggu, 24 Januari 2016

Lautan Berkat

Malam belum larut. Kira-kira baru jam 10 malam. Saya dan istri perlahan menyusuri  jalan yang mulai sepi.  Acara pernikahan tadi begitu melelahkan,  terlalu  banyak sambutan, membuat kami memutuskan untuk pulang daripada ikut mengantri  jamuan yang di sediakan.
Ada martabak keju yang enak di depan pasar Oebobo samping ATM BCA, itu menjadi tujuan kami sekaligus untuk oleh-oleh buat orang rumah terutama si kecil yang tidurnya biasa tengah malam.
Selagi istri turun untuk memesan, saya sendiri di mobil mendengar lembut  suara saxophone Kenny G mengalunkan White Christmas , tidak terasa sebentar lagi natal, pohon sepe sudahi berbunga, sebuah ritual tahunan yang menandakan bahwa saya masih dicintaiNYA.

Ada yang menggangu pandangan saya, di seberang jalan, samping bak sampah , ada seorang perempuan muda asik mengorek-ngorek sampah pasar, di sebelah tangannya ada seorang anak berusia sekitar 8 bulan tertidur di bahu.  Sesekali ia memasukan gelas-gelas plastik bekas air mineral ke dalam kantong merah yang ia bawa.  Kadang ia tersenyum ketika didapatinya kardus bekas kemasan buah yang masih bagus. Ia terus sibuk mengorek-ngorek, anak yang digendongpun tertidur pulas dengan lugunya.  Saya melihat ada raut bahagia ketika ia perlahan hilang di gelapnya malam.

Sejenak batin saya tersentak, begitu sulitkah hidup sehingga seorang perempuan harus bekerja semalam ini dengan menggendong anak tanpa memperdulikan  kesehatan? Berbagi tempat dengan kecoa dan lalat serta bau yang menyengat. Tetapi masih bisa tersenyum dengan beratnya hidup. Saya merasa ada yang salah dalam hidup saya.

Tiba-tiba pintu mobil terbuka, istri saya masuk dengan setumbuk martabak berbau harum , kini saya tidak berselera lagi. Ada air bening di sudut mata saya ketika mobil perlahan berjalan.  Silent Night mengalun lembut.  Kami membisu.  Seperti batin saya.

Malam itu mata saya tak mau terpejam. Saya merasa hina, kecil dan entahlah. Saya sadar…Ada lautan berkat  yang Tuhan berikan bagi saya sepanjang hidup saya. Tetapi saya tidak pernah merasa cukup. Dengan berbagai alasan, saya masih merengek-rengek kepada Tuhan minta tambah.  Ketika menghadapi masalah kecil, saya protes kepada Tuhan mengapa begini…mengapa begitu? Saya menjadi orang picik dengan tidak berbaik sangka kepadaNYA.

Saya ingin malam cepat berlalu, karena  saya tahu apa yang harus saya perbuat besok pagi. Mulai belajar untuk bersyukur.


(DennySalean – Kupang, 01 Desember  2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar