Lautan Berkat
Malam belum larut. Kira-kira baru jam 10 malam. Saya dan
istri perlahan menyusuri jalan yang
mulai sepi. Acara pernikahan tadi begitu
melelahkan, terlalu banyak sambutan, membuat kami memutuskan untuk
pulang daripada ikut mengantri jamuan
yang di sediakan.
Ada martabak keju yang enak di depan pasar Oebobo samping
ATM BCA, itu menjadi tujuan kami sekaligus untuk oleh-oleh buat orang rumah
terutama si kecil yang tidurnya biasa tengah malam.
Ada yang menggangu pandangan saya, di seberang jalan,
samping bak sampah , ada seorang perempuan muda asik mengorek-ngorek sampah
pasar, di sebelah tangannya ada seorang anak berusia sekitar 8 bulan tertidur
di bahu. Sesekali ia memasukan
gelas-gelas plastik bekas air mineral ke dalam kantong merah yang ia bawa. Kadang ia tersenyum ketika didapatinya kardus
bekas kemasan buah yang masih bagus. Ia terus sibuk mengorek-ngorek, anak yang
digendongpun tertidur pulas dengan lugunya.
Saya melihat ada raut bahagia ketika ia perlahan hilang di gelapnya
malam.
Sejenak batin saya tersentak, begitu sulitkah hidup sehingga
seorang perempuan harus bekerja semalam ini dengan menggendong anak tanpa
memperdulikan kesehatan? Berbagi tempat
dengan kecoa dan lalat serta bau yang menyengat. Tetapi masih bisa tersenyum
dengan beratnya hidup. Saya merasa ada yang salah dalam hidup saya.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka, istri saya masuk dengan
setumbuk martabak berbau harum , kini saya tidak berselera lagi. Ada air bening
di sudut mata saya ketika mobil perlahan berjalan. Silent
Night mengalun lembut. Kami membisu.
Seperti batin saya.
Malam itu mata saya tak mau terpejam. Saya merasa hina,
kecil dan entahlah. Saya sadar…Ada lautan berkat yang Tuhan berikan bagi saya sepanjang hidup
saya. Tetapi saya tidak pernah merasa cukup. Dengan berbagai alasan, saya masih
merengek-rengek kepada Tuhan minta tambah.
Ketika menghadapi masalah kecil, saya protes kepada Tuhan mengapa
begini…mengapa begitu? Saya menjadi orang picik dengan tidak berbaik sangka
kepadaNYA.
Saya ingin malam cepat berlalu, karena saya tahu apa yang harus saya perbuat besok
pagi. Mulai belajar untuk bersyukur.
(DennySalean – Kupang, 01 Desember 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar